Menu

Sabtu, 05 Maret 2011

Tentang KITA

Ketika Tuhan menciptakan makhluk bernama wanita, Dia lembur pada hari ke-6.



Malaikat pun heran, lalu datang dan bertanya kepada Tuhan,




“Tuhanku, kenapa begitu lama Engkau menciptakannya?”




Tuhan tersenyum lalu menjawab,




“Apakah kau sudah melihat semua detail yang Aku ciptakan untuknya?”




“dua tangan ini harus bisa dibersihkan, akan tetapi bahan untuk tangan ini bukan dari plastik,”




“setidaknya, ini terdiri dari 200 bagian, bisa berfungsi dengan baik dan mampu membuat berbagai macam masakan lezat,”




“mampu menjaga banyak anak disaat yang bersamaan,”




“pelukannya mampu menyembuhkan sakit hati serta keterpurukan,”




“dan semuanya, dapat dilakukan dengan 2 tangan ini,”




Malaikat pun bertanya,




“Hanya dengan kedua buah tangan ini, Tuhan? Luar biasa.”




“Tentu saja, dan Aku akan menyelesaikan ciptaanKu ini hari ini juga,”




“karena ini adalah ciptaan favoritKu,”




“oh iya, dia juga bisa mengobati dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam sehari.”




Malaikat takjub dan penasaran, lalu ia mendekat dan mengamati ciptaan Tuhan itu lekat-lekat,




“Akan tetapi Tuhan, mengapa Engkau menciptakannya begitu lembut?”




“Ya, Aku memang membuatnya seperti itu,”




“tetapi, kau tak akan bisa membayangkan kekuatan luar biasa yang Aku berikan padanya,”




“Aku menganugerahkan padanya kemampuan untuk mengatasi berbagai hal luar biasa.”




Malaikat mencoba menerka,




“Dia bisa berpikir?”




Tuhan kembali tersenyum lalu menjawab,




“Bukan hanya berpikir, dia bahkan mampu bernegosiasi.”




Malaikat semakin takjub, lalu ia menyantuh dagu ciptaan Tuhan itu dan menemukan sesuatu yang dianggapnya ganjil, ia kembali bertanya kepada Tuhan,




“Tuhan, mengapa ciptaanMu ini terlihat begitu lelah dan rapuh? Seolah-olah, dia menanggung terlalu banyak beban.”




Tuhan menjawab,




“Itu bukanlah lelah ataupun rapuh, itu adalah air mata.”




Malaikat bertanya,




“Air mata? Untuk apa Tuhan?”




Tuhan melanjutkan,




“Air mata adalah sesuatu yang khusus aku berikan pada wanita,”




“agar dapat ia gunakan ketika ia bersedih dan merasakan keterpurukan.”




Malaikat bertasbih,




“Mahasuci Engkau Tuhanku, ciptaanMu ini sungguh menakjubkan!”




“Tentu saja dia luar biasa. Dan satu hal lagi, dia memiliki kemampuan untuk memikat laki-laki,”




Malaikat semakin tercengang, ia bertasbih.




“dan dia dapat mengatasi beban berat, yang bahkan tak mampu diatasi laki-laki,”




“dia mampu memegang pendapatnya sendiri,”




“dia juga dapat membagi kebahagiaannya,”




“dia mampu tersenyum, bahkan disaat hatinya remuk,”




“mampu bernyanyi, bahkan disaat menangis,”




“menangis disaat terharu,”




“terharu disaat tertawa,”




“dan bahkan tertawa disaat ketakutan.”




Tuhan terdiam sejenak, lalu Dia melanjutkan perkataannya,




“dia akan berkorban demi orang yang ia cintai,”




“dia tak akan kecewa apabila ia melihat orang lain lebih baik darinya,”




“dia berjuang keras demi keluarganya,”




“dia menyempatkan waktu untuk mengantar ataupun sekedar menjenguk temannya yang sakit,”




“dia menangis haru ketika melihat anaknya sukses,”




“dia begitu girang dan bersemangat melihat temannya tertawa,”




“dia begitu bahagia mendengar berita kelahiran,”




“dan dia juga turut bersedih mendengar berita sakit dan kematian, namun ia tetap berusaha tegar menghadapinya,”




“karena dia tahu, bahwa ciuman dan pelukan adalah obat mujarab yang mampu mengusir kesedihan,”




“CINTANYA TANPA SYARAT.”




Malaikat pun semakin dan semakin dibuat takjub




Tuhan hendak melanjutkan, akan tetapi Ia menghela napas terlebih dahulu,




“Namun, perlu kau ketahui, wanita memiliki kelemahan.”




Malaikat penasaran, lalu iapun bertanya,




“Apakah itu wahai Tuhanku?”




Tuhan menjawab,




“Hanya 1 kekurangan dari wanita,”






“WANITA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA.”


source:http://www.facebook.com/notes/muhammad-hafidz-hilmawan/kekurangan-wanita/10150115041733755


KET: INI HANYALAH FIKSI/ CERITA. CERITA INI DIBUAT AGAR WANITA SADAR BAHWA BETAPA BERHARGANYA IA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar